JDIH Kota Lubuk Linggau
Kembali ke Koleksi Buku
TAN MALAKA, GERAKAN KIRI, DAN REVOLUSI INDONESIA
Buku Pengetahuan2008

TAN MALAKA, GERAKAN KIRI, DAN REVOLUSI INDONESIA

Penulis
Harry A. Poeze
Penyusun
Harry A. Poeze
Penerbit
Yayasan Obor Indonesia
ISBN
-

Deskripsi

Dalam bulan Juni 2007 terbitlah buku saya yang berjudul Verguisd en vergeten; Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945–1949 (Dihujat dan dilupakan; Tan Malaka, gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia, 1945–1949). Buku ini bukan sekadar biografi, tapi juga merupakan sejarah Revolusi Indonesia, sebagaimana yang terjadi pada tingkat pusat. Ketika menulis, saya menjadi heran karena ternyata masih sangat banyak kejadian yang belum dituliskan. Maka saya berusaha melakukan penulisan itu. Hasilnya berupa sebuah buku tebal dalam bahasa Belanda, yang terdiri dari tiga jilid berisi 2200 halaman.

Sejarah ini dituliskan dengan perkembangan politik dalam negeri Indonesia sebagai titik tolak. Sebagian besar buku yang ada sampai sekarang memilih suatu sudut pandang, yang ditentukan oleh dimensi-dimensi internasional dari konflik dekolonisasi antara Indonesia dan Belanda, dengan peranan penting Inggris, Amerika Serikat, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalamnya. Dengan demikian dalam buku-buku itu, Perjanjian Linggajati dan Perjanjian Renville, serta dua aksi militer Belanda tentu saja berperan sebagai titik-balik yang menentukan. Di dalam Republik Indonesia sendiri kejadian-kejadian tersebut juga merupakan peristiwa penting, tapi yang terlebih penting dalam menentukan jalannya sejarah ialah perkembangan dan krisis internal. Hal itu menentukan hidup-mati republik itu sendiri. Konflik di dalam republik antara ‘perjuangan’ dan ‘diplomasi’ itulah yang setiap kali berkobar. Tapi kedua belah ‘pihak’ yang berkonflik tidak mempunyai pengikut tetap. Sebagian besar suatu ketika memilih satu pihak, kemudian pada saat yang lain pindah ke pihak lain. Di sini oportunitas politik memainkan peranan besar. Ini sebuah permainan akrobat yang sulit. Tidak ada jaring pengaman, maka jumlah korban pun tidak sedikit.

Peristiwa-peristiwa sangat penting dalam kesimpangsiuran dalam negeri republik itu ialah persidangan parlemen sementara, Komite Nasional Indonesia Pusat dalam bulan Februari–Maret 1946, Peristiwa 3 Juli (1946), sidang KNIP tentang persetujuan Perjanjian Linggajati (Februari–Maret 1947), pembentukan Kabinet Hatta (Januari 1948), pemberontakan Madiun (September–Oktober 1948), dan akhirnya reaksi-reaksi terhadap persetuju-

Preview File

Koleksi Terkait